Pesan Mendalam Kepala Kemenag Soppeng: Kurban, Teguran Keras Bagi Hidup yang Terlalu Individualis


SOPPENG, SAR COM– Suasana ibadah Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Al-Ikhlas, Tanete, Kelurahan Manorang Salo, berlangsung begitu khidmat dan penuh keteduhan pada Rabu pagi, 27 Mei 2026. Di tengah jemaah yang memenuhi masjid, kehadiran tokoh masyarakat dan ulama menambah kekhusyukan perayaan di kawasan yang akrab disapa Kampung Arab ini.
 
Turut hadir di barisan shaf jemaah, Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus Dosen Universitas Islam Makassar (UIM), Dr. H. Iskandar Fellang, M.Pd.I. Kehadiran beliau bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari keluarga besar kampung halaman yang dikenal memiliki garis keturunan yang terhormat, kental nilai religiusnya, dan senantiasa konsisten menjaga kepedulian sosial antarwarga.
 
Ibadah shalat Id kali ini dipimpin oleh Al Hafidz Muh. Adil Adiaksyah sebagai Imam, didampingi tokoh karismatik Kampung Arab, Syech H. Haeruddin, yang bertindak sebagai penuntun bacaan shalat. Momen yang paling ditunggu adalah penyampaian khotbah yang dibawakan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Soppeng, Ustadz H. Afdal, S.Ag., MM.
 
Dalam awal penyampaiannya, Ustadz Afdal menyampaikan laporan menggembirakan terkait perkembangan syiar kurban di Bumi Latemmamala. Ia merilis data resmi bahwa jumlah hewan kurban di Kabupaten Soppeng tahun 2026 ini mencapai angka yang luar biasa, yaitu 1.410 ekor sapi dan 65 ekor kambing.
 
Angka tersebut menandakan lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebuah bukti nyata bahwa kesadaran beribadah dan kemampuan ekonomi masyarakat dalam berbagi dan bersedekah terus mengalami peningkatan yang membanggakan.
 
Di balik banyaknya hewan yang disembelih, Kepala Kemenag Soppeng mengajak jemaah untuk merenung lebih dalam. Membawakan materi khotbah berjudul “Kurban Sebagai Teguran Terhadap Hidup yang Terlalu Individualis”, ia menyodorkan refleksi yang sangat menohok ego dan kesadaran sosial setiap orang yang hadir.
 
Menurutnya, kurban bukan sekadar tradisi atau ritual semata, melainkan momen suci untuk memotong sifat keakuan dan sikap peduli yang hanya sebatas di bibir.
 
“Ini adalah peringatan yang tidak boleh kita abaikan. Rasulullah SAW tidak ingin kita rajin hadir dalam ibadah, namun justru absen dan tidak peduli saat saudara kita membutuhkan uluran tangan,” tegas H. Afdal dari atas mimbar, mengingatkan agar ibadah tidak menjadi hampa makna.
 
Lebih jauh, ia mengajak seluruh jemaah yang akan pulang ke rumah untuk tidak hanya larut dalam euforia berbagi daging semata. Ia meminta setiap orang membawa pulang renungan mendalam, bukan sekadar kabar berapa banyak hewan yang disembelih.
 
“Hari ini jangan pulang hanya membawa cerita: 'tahun ini kita menyembelih sekian ekor'. Pulanglah dengan pertanyaan yang jauh lebih jujur kepada diri sendiri: Bagian mana dari diri kita yang ikut berubah hari ini? Apakah sifat kikir kita mulai patah? Apakah hati kita mulai lembut? Apakah mata kita kini makin peka melihat orang miskin, anak yatim, tetangga yang susah, buruh kecil, dan saudara kita yang diam-diam menahan beban berat?” ujarnya dengan nada menyentuh hati.
 
Khotbah tersebut ditutup dengan harapan agar makna kurban benar-benar hidup dalam tindakan nyata. Acara pun diakhiri dengan jabat tangan saling memaafkan antarjemaah, dilanjutkan prosesi penyembelihan hewan kurban sumbangan dari Dr. H. Iskandar Fellang. Prosesi ini dilakukan secara gotong royong, menjadi simbol nyata runtuhnya sekat-sekat perbedaan dan sifat individualisme di tengah masyarakat Kampung Arab yang terus menjaga nilai kebersamaan.(Ysr)