Ketgam: Dengan Alat Sederhana Warga RK Gellenge Merakit Lampu Tenaga Kincir
SOPPENG, SAR COM– Tinggal dua bulan lagi peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tahun, rasa syukur atas kemajuan bangsa masih terasa kurang utuh bagi warga RK Gellenge di wilayah desa Bulue, Kecamatan Marioriawa kabupaten Soppeng. Pasalnya, selain masih menghadapi masalah akses jalan dan infrastruktur yang belum memadai, masyarakat di wilayah ini juga hingga kini belum bisa menikmati penerangan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Kondisi ini menjadi catatan miris di tengah gempita pembangunan yang digembar-gemborkan merata ke seluruh pelosok negeri.
Sudah bertahun-tahun harapan warga untuk mendapatkan aliran listrik masuk ke rumah-rumah mereka belum terwujud. Berbagai aspirasi telah disampaikan, namun hingga saat ini kabel listrik PLN belum menyentuh wilayah mereka. Padahal, di desa-desa lain yang berjarak tidak terlalu jauh, penerangan dari jaringan resmi negara sudah terang benderang sejak lama.
Namun, keterbatasan fasilitas tak membuat warga menyerah. Berbekal semangat gotong royong dan kreativitas tinggi yang diwariskan leluhur, masyarakat setempat memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitar mereka, yaitu aliran sungai yang mengalir deras melintasi wilayahnya. Secara swadaya dan bergotong royong, mereka membangun pembangkit listrik tenaga air sederhana. Air sungai yang mengalir diubah menjadi energi untuk menghasilkan listrik guna penerangan rumah dan lingkungan.
“Kami bersyukur masih dikaruniai sungai, jadi kami tidak sepenuhnya dalam kegelapan. Kalau hanya menunggu, entah sampai kapan listrik PLN datang. Kami buat sendiri dengan tenaga dan biaya bersama, alhamdulillah bisa menyala,” ujar salah satu tokoh warga yang namanya Enggan dimediakan Selasa (02/06/2026)
Meski demikian, keberhasilan warga membangun listrik mandiri ini tidak bisa dinikmati sepenuhnya. Kapasitas daya yang dihasilkan sangat terbatas dan sederhana. Listrik dari tenaga air ini hanya cukup untuk menyalakan beberapa lampu penerangan saja. Warga belum bisa memanfaatkannya sepuasnya masih terbatas untuk keperluan lain seperti menyalakan televisi, kulkas, mesin jahit, peralatan usaha, maupun perangkat elektronik lainnya yang bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga.
Sering kali pula saat musim kemarau debit air menyusut, maka penerangan pun ikut meredup atau bahkan mati sama sekali.
“Memang ada cahayanya, tapi sangat terbatas. Cukup sekadar melihat di malam hari saja. Kami belum bisa menikmati fasilitas listrik layaknya warga lain. Rasanya sedih, sebentar lagi Indonesia berusia 81 tahun merdeka, tapi kami masih ada yang hidup dalam keterbatasan ini,” keluh warga lainnya.
Kondisi ini semakin menegaskan kesenjangan pembangunan yang masih terjadi, sekaligus menjadi bukti nyata belum terwujudnya sepenuhnya Sila Kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Listrik adalah kebutuhan dasar dan hak setiap warga negara, yang seharusnya dijamin pemenuhannya oleh negara, terlepas di mana mereka tinggal.
Warga berharap, menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81 ini menjadi momen kebangkitan perhatian pemerintah. Semoga kreativitas warga yang mampu mengubah sungai menjadi cahaya ini menjadi perhatian khusus, sehingga segera disusun rencana pemasangan jaringan listrik resmi dari PLN. Warga ingin merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, yang tidak hanya bebas dari penjajahan, tapi juga bebas dari keterbatasan fasilitas dan ketertinggalan zaman.
“Kami tidak minta kemewahan, kami hanya ingin menikmati hak kami sebagai warga negara yang merdeka: jalan yang bagus dan listrik yang terang benderang seperti saudara-saudara kami di tempat lain,” pungkas harapan warga tersebut.(ton)