Asah Skill dan Kerakter,Sispala MAN 2 Soppeng Sukses Gelar Kemah Survival

 
SOPPENG SAR.COM– Semangat petualangan dan kecintaan terhadap alam kembali ditunjukkan oleh Siswa Pecinta Alam (Sispala) MAN 2 Soppeng. Melalui kegiatan Survival Camp yang digelar pada 25–26 April 2026, puluhan siswa diajak untuk tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami cara bertahan hidup di dalamnya.
 
Bertempat di ketinggian Puncak Mario, Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa, udara sejuk dan aroma tanah basah menyambut kedatangan tiga regu siswa. Sabtu pagi (25/4), langkah kaki mereka menapak tegas menuju lokasi. Bukan sekadar mendaki, mereka datang dengan misi belajar dan membuktikan diri.
 
Kegiatan bertajuk Survival Camp ini langsung dimulai dengan pembagian tugas yang tertib. Sebagian sibuk mendirikan tenda, lainnya membersihkan area perkemahan. Disiplin dan kerja sama menjadi kunci utama sejak awal kegiatan.
 
Menjelang siang, suasana menjadi lebih serius saat sesi materi dimulai. Hadir sebagai pemateri utama, Afif Abdul Rahman, S.Pd.Gr, instruktur handal dari Divisi SAR MAPALASTA UIN Alauddin Makassar.
 
Dengan gaya penyampaian yang tegas namun santun, Afif mengajarkan teknik-teknik survival tingkat lanjut.
 
"Di alam liar, keputusan sekecil apa pun bisa menentukan nyawa. Kita belajar membaca medan, mencari lokasi aman, dan membuat perlindungan diri," ujar Afif membuka sesi teknik pembuatan bivak.
 
Para siswa diajarkan cara membuat tempat berlindung darurat hanya dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, mulai dari terpal, tali, hingga dedaunan. Lokasi bivak pun dipilih secara cermat, jauh dari aliran air dan aman dari potensi bahaya.
 
Setelah istirahat, teori langsung dipraktikkan. Satu per satu kelompok mulai merancang tempat berlindung mereka sendiri. Ada yang masih ragu, namun perlahan mulai terbiasa dan percaya diri.
 
Siang bergeser, ketegangan sedikit mencair lewat permainan edukatif yang mempererat kekompakan. Sore harinya, giliran materi "Masak Rimba". Dengan peralatan seadanya, para siswa ditantang untuk mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang layak konsumsi, melatih kreativitas dan kemandirian.
 
Malam harinya, suasana semakin akrab dengan diskusi alam bebas dan materi Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD) sebelum akhirnya semua beristirahat di bawah tabir bintang.
 
Kepala MAN 2 Soppeng, Basrah, S.Pd., dalam arahannya menilai kegiatan ini sangat positif. Menurutnya, Survival Camp bukan sekadar agenda ekstrakurikuler biasa, melainkan wujud nyata dari Asta Protas Kemenag yang mengusung tema cinta lingkungan.
 
"Kegiatan ini sangat bagus untuk membentuk karakter, kemandirian, dan kecakapan hidup siswa. Apalagi Sispala MAN 2 Soppeng selama ini memang aktif dan sering mengharumkan nama sekolah di berbagai lomba," ujarnya bangga.
 
Pemilihan Puncak Mario sebagai lokasi juga dinilai sangat tepat. Medannya yang menantang dan pemandangannya yang indah menjadi kelas alam yang sesungguhnya.
 
"Di sini mereka belajar langsung dari alam, bukan hanya membaca teori dari buku," tambah salah satu pembina.
 
Minggu pagi (26/4), kegiatan ditutup dengan evaluasi. Bivak-bivak sederhana yang menjadi saksi bisu proses belajar akhirnya dibongkar, meninggalkan lokasi bersih seperti semula.
 
Bagi para siswa, pengalaman di Puncak Mario ini menjadi kenangan berharga. Mereka pulang bukan hanya membawa fisik yang lelah, tetapi juga ilmu, pengalaman, dan pemahaman baru tentang arti bertahan hidup dan menghargai alam.(Ysr)