Guru Politik Telah Tiada,Bupati Suwardi Haseng Kenang Keteladanan Pung Cambang

SOPPENG SAR COM-Duka cita mendalam menyelimuti Bumi Latemmamala. Kepergian Andi Akbar Singke atau yang akrab disapa Pung Cambang meninggalkan luka mendalam, terutama bagi Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng. Melalui sebuah unggahan, Bupati menuangkan kesedihannya dalam sepenggal kalimat yang penuh makna: “Selamat Jalan Sahabatku, Guruku. Doa Kami Selalu Menyertaimu.”
 
Bagi Suwardi Haseng, hari ini Soppeng telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Ia menyebut almarhum sebagai sosok yang sangat dihormati, bukan hanya sebagai sesama tokoh, melainkan sebagai orang tua, sahabat, sekaligus guru politik yang ilmu dan nasihatnya tak akan tergantikan.
 
“Almarhum bukan sekadar tokoh politik, beliau adalah kompas moral bagi kita semua. Dari beliaulah saya dan banyak rekan lainnya belajar banyak hal. Beliau selalu mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah, seorang pemimpin wajib hadir dan dekat dengan rakyat, serta politik harus dimaknai sebagai jalan pengabdian, bukan untuk kepentingan pribadi,” ujar Suwardi Haseng.
 
Jasa dan keteladanan Pung Cambang dinilai terlalu besar untuk diungkapkan hanya dengan kata-kata. Jejak pengabdiannya terukir jelas, mulai dari saat mengabdi di DPRD Kabupaten Soppeng hingga melangkah ke jenjang DPRD Provinsi. Lebih dari itu, beliau telah berhasil melahirkan dan membina generasi-generasi calon pemimpin yang kini terus melanjutkan perjuangan untuk kemajuan daerah.
 
“Kini beliau telah berpulang ke rahmatullah, beristirahat dengan tenang setelah menorehkan banyak karya. Bumi Latemmamala akan selalu mengenang jasa-jasanya. Semoga Allah SWT menempatkan almarhum di tempat yang paling mulia di sisi-Nya, mengampuni segala khilaf dan salah, serta menerima seluruh amal bakti yang telah dicurahkan selama hidupnya,” tambahnya dengan nada haru.
 
Dalam sambutan resmi saat prosesi pelepasan jenazah, Bupati Suwardi Haseng kembali menegaskan bahwa kepergian Pung Cambang adalah kehilangan besar bagi seluruh masyarakat Soppeng.
 
“Almarhum adalah sosok yang tau malabo na mabessa—santun, bijaksana, dan senantiasa menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat. Nama dan pengabdiannya akan abadi dalam ingatan warga Soppeng,” tegasnya.
 
Suasana haru semakin terasa saat jenazah diturunkan ke peristirahatan terakhir. Isak tangis pecah di tengah lautan manusia yang hadir, menjadi bukti nyata betapa tinggi wibawa dan ketokohan almarhum di hati masyarakat.
 
Ribuan pelayat dari berbagai lapisan masyarakat tumpah ruah mengiringi prosesi pemakaman yang berlangsung Selasa (29/4/2026). Sejak pagi, rumah duka yang berlokasi di Lingkungan Lewa-Lewa, Kecamatan Liliriaja, sudah dipadati oleh warga yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Iring-iringan kendaraan dan pejalan kaki pun terlihat mengular panjang dari rumah duka menuju tempat pemakaman.
 
Sebagai tokoh yang masih memiliki garis keturunan bangsawan atau darah biru Datu Soppeng, prosesi pemakaman Pung Cambang dilaksanakan dengan penuh kekhususan mengikuti tata cara Ade’ Pangaderen. Prosesi adat ini menjadi simbol penghormatan tertinggi, sekaligus menegaskan bahwa almarhum bukan sekadar politisi biasa.
 
Pung Cambang adalah simpul yang menyatukan sejarah, budaya, dan aspirasi rakyat. Beliau memilih mengabdikan seluruh hidupnya untuk memajukan daerah dan menyejahterakan masyarakat.
 
Dengan berpulangnya Pung Cambang, Soppeng tidak hanya kehilangan seorang politisi handal, tetapi juga sosok kharismatik, penjaga nilai-nilai budaya, dan pemimpin yang selalu meletakkan kepentingan rakyat di atas segalanya.(ton)