SOPPENG SUARAEALITA.COM-Di setiap momentum pemilihan, baik itu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Umum (Pemilu), nama jalan poros Lejja Lamenton desa Bulue Kecamatan Marioriawa kabupaten Soppeng selalu menjadi "primadona" dalam naskah pidato para calon pemimpin. Jalan yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat ini selalu dijadikan bahan kampanye, dijadikan janji manis untuk meraih simpati suara, dan diumbar dengan janji akan segera diperbaiki, diperlebar, dan diaspal dengan standar yang layak.
Namun, ironisnya, setelah masa kampanye dan kemenangan diraih, janji itu pun ikut menghilang. Tahun berganti tahun, pemilihan berganti pemilihan, kondisi jalan poros tersebut tak kunjung berubah. Bahkan, kondisinya semakin memprihatinkan.
Kini, jalan poros tersebut bukan lagi menjadi akses yang memudahkan, melainkan sumber penderitaan. Saat musim hujan tiba, jalanan berubah menjadi lautan lumpur dan kubangan air yang sangat dalam. Kendaraan roda dua maupun roda empat sering kali terjebak, bahkan tidak jarang harus putar balik karena tidak sanggup menerjangnya.
Sementara di musim kemarau, debu beterbangan bagai kabut tebal yang menyelimuti perjalanan, mengganggu kesehatan dan mengurangi kenyamanan. Akibatnya, harga barang kebutuhan pokok menjadi mahal karena sulitnya distribusi. Hasil bumi pun susah dikirim ke pasar, membuat petani dan pedagang dirugikan berkali-kali lipat.
Janji itu terdengar sangat meyakinkan, seolah-olah esok paginya alat berat akan langsung datang. Namun, setelah mereka duduk di kursi empuk kekuasaan, janji itu tak pernah lagi dibahas. Anggaran pembangunan seolah berpaling ke tempat lain, meninggalkan jalan poros ini dalam kesendirian yang semakin hancur.
Rasa lelah dan kecewa kini sudah memenuhi hati warga. Mereka merasa dipermainkan, dijadikan objek pencitraan semata demi ambisi politik sesaat. Hak dasar untuk mendapatkan infrastruktur yang layak seolah menjadi "hadiah" yang harus ditukar dengan suara, padahal itu adalah kewajiban negara yang harus dipenuhi tanpa syarat.
Sampai kapan jalan poros Lejja Lamenton ini harus terus menjadi korban janji politik? Sampai kapan masyarakat harus menelan pil pahit kekecewaan di setiap pergantian pemimpin? Hingga saat ini, perbaikan yang dijanjikan puluhan tahun lamanya masih sekadar wacana, sementara jalanan itu terus menganga lebar, menunggu kepastian yang tak kunjung datang