SOPPENG SAR.COM– Kondisi perairan Danau Tempe yang masuk wilayah Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, kini memprihatinkan bagi ribuan nelayan yang menggantungkan hidup di sana. Pasalnya, populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) semakin tidak terkendali jumlahnya, mendominasi hampir seluruh tangkapan jaring, sekaligus memangkas drastis jumlah ikan lokal bernilai ekonomi tinggi seperti ikan mas, mujair, gabus, dan ikan Kandea
Keluhan ini disampaikan langsung oleh para nelayan di Kelurahan Limpomajang Kecamatan Marioriawa kabupaten Soppeng pada Minggu (10/05/2026). Mereka mengaku sudah sangat sulit mendapatkan hasil tangkapan yang layak dijual, karena setiap kali jaring ditarik ke atas, isinya hampir dipenuhi ikan sapu-sapu yang kulitnya keras, berduri tajam, daging sedikit, dan nyaris tidak ada nilai jual.
Ismail (53), salah satu nelayan warga Salo Mate'e kelurahan Limpomajang menceritakan betapa beratnya nasib mereka sekarang. Dulu, sekali Danau ia bisa membawa pulang puluhan kilogram ikan laku dijual untuk kebutuhan keluarga. Namun kini, hasilnya berbalik 180 derajat.
“Sekali tarik jaring dapatnya ikan sapu-sapu. Kalau dijual ke pasar, tak ada yang mau beli. Bensin habis, tenaga habis, tapi pulang tak dapat apa-apa. Kami ini benar-benar menderita, penghasilan tinggal sedikit sekali,” ungkapnya dengan nada pasrah.
Bukan hanya merugikan secara ekonomi, ikan sapu-sapu juga terbukti merusak ekosistem Danau Tempe. Ikan ini bersifat invasif, berkembang biak sangat cepat, tahan hidup di air keruh maupun kotor, dan tidak memiliki musuh alami di perairan ini. Kebiasaan hidupnya memakan makanan dasar, memakan telur ikan lain, mengaduk lumpur dasar hingga air menjadi keruh, serta merusak tanaman air, membuat ikan-ikan asli Danau Tempe perlahan menghilang dan pindah ke tempat lain.
Masalah lain yang memberatkan nelayan adalah kerusakan alat tangkap. Kulit keras dan duri ikan sapu-sapu sering kali merobek jaring, sehingga nelayan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki jaring yang rusak, padahal pendapatan mereka saja sudah minim.
“Ini ancaman nyata bagi perikanan kita. Ikan sapu-sapu menekan populasi ikan lokal dan membuat ekonomi nelayan anjlok. Kami sudah berkoordinasi, namun sampai saat ini belum ada cara efektif untuk membasmi atau menekan jumlahnya secara signifikan,” ujarnya.
Kepala Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Soppeng Ir. Erman Asnawi, M.Si. yang dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan bahwa,
Pemerintah kabupaten Soppeng sudah berupaya mencari solusi, seperti sosialisasi pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi tepung ikan, pakan ternak, atau pupuk organik,
"Sudah ada pabriknya di UPTD Penrikanan di Salo mate Kelurahan Limpomajang Kecamatan Marioriawa dengan kapasitas 500 kg.''jelas Erman
Lanjut Erman terkait dengan ikan sapu-sapu bukan hanya Nelayan Marioriawa tapi semua Nelayan seperti di kabupaten Wajo Sidrap dan Bone jelasnya.
"Pesan saya kepada Nelayan jika ada ikan sapu-sapu ditangkap jangan dilepas lagi di danau langsung musnahkan supaya tidak berkembang biak"Harap Erman (ton)