SOPPENG, SAR.COM – Suasana sore hari di depan Pasar Batu-Batu, Kabupaten Soppeng, mendadak menjadi sangat ramai dan padat pada Kamis, 26 Juni 2026. Ratusan warga tampak berdesak-desakan memburu gayong, timba, panci, kuwali, ukuran liter, serta berbagai peralatan rumah tangga lainnya.
Usut punya usut, keramaian ini bukanlah kejadian biasa. Hari itu bertepatan dengan 10 Muharram 1447 Hijriah atau yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Hari Asyura, sekaligus menjadi momen pelaksanaan tradisi khas yang disebut Pasa Masagena.
Bagi warga, membeli peralatan rumah tangga pada hari istimewa ini bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan memiliki makna mendalam. Barang-barang tersebut dipercaya dapat membawa keberkahan, kelancaran rezeki, serta membuat rumah tangga senantiasa berkecukupan sepanjang tahun.
Seperti diungkapkan salah seorang warga yang terlihat sibuk berbelanja, selain membeli penampi beras, gayong, dan timba, ia juga melengkapi belanjaannya dengan garam.
“Iya Pak, setiap tanggal 10 Muharram selalu diadakan Pasa Masagena seperti ini. Ini sudah dilakukan oleh masyarakat, khususnya warga Bugis, dan sudah menjadi budaya turun-temurun dari leluhur kami,” ujarnya.
Sementara itu, Hasna, salah satu pedagang peralatan rumah tangga di lokasi tersebut, menyambut baik tradisi yang terus terjaga ini. Menurutnya, momen ini juga membawa keberkahan tersendiri bagi para pelaku usaha.
“Dengan adanya Pasa Masagena ini, dagangan kami laku keras dan omzet pun bertambah. Memang momennya hanya satu hari dalam setahun, tapi ini terjadi setiap tahun dan menjadi berkah bagi kami pedagang,” ungkap Hasna dengan senang hati.
Tradisi ini pun tetap lestari di tengah perkembangan zaman, tidak hanya menjadi ajang jual beli, tetapi juga menjadi wujud kearifan lokal yang memadukan nilai keagamaan dan budaya warisan nenek moyang.
(ton)