SOPPENG, SAR.COM – Kawasan Tugu Cakkelle, tepat di simpang tiga Jalan Pemuda, Kemakmuran, dan Attang Benteng, menjadi saksi penyampaian aspirasi keras dari kalangan pelajar. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa pada Selasa (07/70
/2026) siang, menyoroti sejumlah isu krusial hingga janji politik yang dinilai belum terwujud di Kabupaten Soppeng.
/2026) siang, menyoroti sejumlah isu krusial hingga janji politik yang dinilai belum terwujud di Kabupaten Soppeng.
Aksi yang semula dijadwalkan pukul 13.00 WITA baru bergerak dari titik kumpul sekitar pukul 15.00 WITA, dan penyampaian orasi resmi dimulai pukul 15.30 WITA sesuai lokasi yang telah dilaporkan kepada pihak kepolisian.
Pengamanan berlangsung sangat ketat dengan pengerahan personel gabungan. Wakapolres Soppeng, Kabag Ops, Kasi Propam, hingga Kapolsek Lalabata turut hadir langsung memantau situasi demi menjaga keamanan dan ketertiban.
Sempat terjadi ketegangan di awal aksi. Saat mahasiswa membakar ban bekas sebagai simbol protes, api yang membesar dikhawatirkan membahayakan kabel listrik di atas lokasi sehingga aparat meminta api segera dipadamkan. Di sisi lain, peserta aksi mengklaim adanya upaya penghalangan dalam menyampaikan aspirasi mereka.
Dalam aksinya, Aliansi Mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama:
1. Evaluasi menyeluruh program beasiswa pemerintah daerah
2. Kejelasan status aset daerah, khususnya Asrama Mahasiswa Soppeng
3. Peninjauan kembali pelaksanaan program MBG dan KDMP
4. Pengembalian TNI dan Polri pada fungsi utama sesuai konstitusi
5. Penjelasan transparan terkait klaim pertumbuhan ekonomi Soppeng
Mahasiswa juga mempertanyakan keseriusan pelaksanaan slogan kampanye "Kerja Tanpa Tunggu" yang dinilai belum dirasakan dampaknya oleh masyarakat luas.
Sektor infrastruktur menjadi sorotan mendesak. Mereka menuntut perbaikan segera Jembatan Cenrana yang dinilai membahayakan keselamatan. Selain itu, mahasiswa menyoroti fakta banyak pembangunan di wilayah desa yang masih mengandalkan swadaya masyarakat—indikasi belum meratanya perhatian pemerintah.
Slogan "Soppeng Setara" pun dikritik belum nyata. Contohnya pemindahan pedagang kaki lima ke Taman Gapis, sementara masih ada kendaraan berdagang yang tetap beroperasi di Pelataran Masjid Agung Darussalam. Mahasiswa menduga kebijakan ini sarat ketimpangan dan menguntungkan pihak tertentu.
Terkait klaim pertumbuhan ekonomi 3,39 persen, mahasiswa menilai angka itu belum mencerminkan kesejahteraan rakyat bawah. Mereka juga menekankan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi saat ini banyak didorong kebijakan pusat seperti Program MBG, bukan semata kinerja pemerintah daerah.
Aksi berlangsung tertib dengan penyampaian orasi bergantian hingga berita ini diturunkan, di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian.(*)