SOPPENG, SAR.COM — Musim kemarau yang berlangsung sejak Mei hingga Oktober 2026 terus memanjang, menekan ketersediaan air sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di seluruh Kabupaten Soppeng. Sebagian sumur warga mulai mengering, sementara tanah dan vegetasi kian rapuh dan mudah terbakar.
Menyikapi kondisi ini, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Karhutla sekaligus Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, S.E., meminta seluruh lapisan masyarakat tidak menganggap enteng ancaman yang mengintai.
“Kemarau panjang ini membuat hutan dan lahan kita berada dalam kondisi paling rentan. Satu percikan api saja bisa membesar dan sulit dikendalikan. Kewaspadaan harus kita tingkatkan ” ujarnya, Jumat (2/10/2026).
“Saya ingatkan kembali: jangan lagi ada yang membuka ladang, sawah, maupun kebun dengan membakar. Saat ini sangat rawan, api bisa meluas tak terkendali dan merugikan kita semua,” tegas Suwardi.
Pembakaran lahan di tengah kemarau berkepanjangan berisiko menyebar cepat, bukan hanya menghanguskan lahan pertanian, tetapi juga mengancam kawasan hutan, pemukiman, serta merusak lingkungan yang mulai kian menipis sumber airnya.
Pencegahan Karhutla bukan semata-mata tugas pemerintah atau Satgas. Peran warga di lingkungan masing-masing adalah benteng paling kuat.
“Yang kita khawatirkan, menjadi tanggung jawab kita bersama. Dengan kebersamaan, ancaman ini bisa kita cegah sebelum terjadi. Kekompakan adalah kunci menjaga Soppeng tetap aman,” pesannya.
Suwardi kembali mengajak masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan membakar sampah maupun lahan, lebih peka terhadap potensi api di sekitar, dan saling mengingatkan demi keselamatan bersama.
“Mari kita jaga lingkungan ini. Lindungi Soppeng dari ancaman api, mulai dari diri sendiri,” tutupnya.(ton)