Pasar Bisa Terbakar, Tapi Harapan Tak Akan Pernah Padam

Oleh:Bang Ono 

SOPPENG, SAR.COM-Asap mungkin sudah tak lagi mengepul, namun jejak perihnya masih terasa jelas. Di mana kemarin riuh tawar-menawar terdengar hangat, kini hanya sisa-sisa kenangan yang tergeletak dalam diam. Di antara tumpukan kayu hangus dan puing-puing bangunan, ada kisah-kisah yang untuk sesaat terhenti kisah perjuangan, harapan, dan keringat ratusan keluarga yang menggantungkan hidup di sana.
 
Kebakaran ini mengajarkan kita satu hal sederhana: betapa rapuhnya apa yang kita miliki. Dalam hitungan jam, apa yang dibangun bertahun-tahun bisa lenyap ditelan si jago merah. Rumah tak hanya tempat bernaung, pasar pun bukan sekadar bangunan tempat bertransaksi. Ia adalah denyut nadi kehidupan, tempat senyum dan sapaan warga bertemu setiap hari. Ketika ia hilang, yang hilang bukan hanya bangunan, melainkan juga sumber harapan yang selama ini dijaga bersama.
 
Namun di balik kehilangan yang mendalam, ada pelajaran besar yang tak boleh kita lewatkan begitu saja. Musibah ini bukan sekadar soal api yang membakar kayu dan atap. Ia adalah cermin bagi kita semua: betapa pentingnya menjaga kepekaan sesama, betapa mendesaknya kita merawat mereka yang membutuhkan perhatian lebih, dan betapa perlunya tangan-tangan yang saling menguatkan di saat sulit datang.
 
Kehilangan memang tak bisa dikembalikan seperti semula. Tapi semangat warga yang tak pernah padam itulah yang justru harus lebih menyala daripada apinya kemarin. Pasar bisa dibangun kembali, lapak bisa dipasang ulang, tetapi kebersamaan dan kepedulian antarwarga  itulah fondasi yang paling kuat untuk berdiri kembali.
 
Biarlah api yang memusnahkan itu menjadi penutup masa lalu, dan semangat untuk bangkit bersama menjadi awal yang baru. Karena yang sejati tak terbakar adalah ikatan hati, harapan yang tak pernah padam, dan tekad bahwa hari esok akan lebih baik asal kita saling menjaga, saling peduli, dan tak pernah berjalan sendirian.