Ikon Danau Tempe di Marioriawa Terancam Punah: Rumah Terapung Mulai Kosong, Nelayan Pindah Haluan Gegara Ikan Sapu-sapu

 
SOPPENG, SAR.COM– Keindahan dan keunikan Danau Tempe yang menjadi kebanggaan Kabupaten Soppeng, khususnya di wilayah Kecamatan Marioriawa, kini berada di ambang kepunahan. Pemandangan khas berupa barisan rumah terapung yang berdiri kokoh di atas permukaan air, yang selama ini menjadi ikon dan identitas budaya masyarakat pesisir danau, kini perlahan namun pasti mulai menghilang dan terancam habis.
 
Penyebab utama dari kehancuran ekonomi dan pergeseran kehidupan masyarakat ini bukanlah kekeringan atau polusi, melainkan satu jenis ikan asing yang keberadaannya kini sudah merajalela, menjadi hama, dan menggerogoti sumber penghidupan warga: Ikan Sapu-sapu.
 
Puluhan tahun lamanya, warga di sepanjang Danau Tempe, khususnya di wilayah Marioriawa, menggantungkan nasib dan hidup dari hasil melaut di danau ini. Rumah-rumah panggung yang terapung di atas air bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pusat kegiatan ekonomi, tempat pembudidayaan ikan, dan warisan leluhur yang dijaga eksistensinya. Namun, belakangan ini, wajah Danau Tempe berubah drastis.
 
"Kondisi sekarang sangat memprihatinkan. Dulu setiap sore dan pagi, danau ini ramai perahu, ramai orang beraktivitas. Sekarang Sepi. Banyak rumah terapung yang ditinggalkan pemiliknya, dibiarkan rapuh, atau bahkan dibongkar perlahan. Ikan-ikan asli danau seperti ikan mujair, ikan mas, atau ikan gabus,kandea semuanya habis dimakan atau rusak oleh ikan sapu-sapu ini," ungkap Ismail. salah satu tokoh masyarakat pesisir Danau Tempe.
 
Ikan sapu-sapu yang awalnya mungkin dimaksudkan untuk membersihkan lumut, kini berubah menjadi bencana besar. Pertumbuhannya sangat cepat, berkembang biak tanpa kendali, dan memakan segala jenis pakan serta telur-telur ikan asli Danau Tempe. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan anjlok drastis, sementara biaya pemeliharaan  dan jaring justru membengkak karena sering rusak atau dipenuhi oleh ikan yang tidak bernilai ekonomi tinggi tersebut.
 
Kondisi ini memaksa para nelayan dan pembudidaya ikan mengambil keputusan berat. Bertahan di danau yang semakin tidak menjanjikan sama saja dengan menggali lubang kerugian setiap harinya. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih melepas profesi yang sudah dijalani turun-temurun ini.
 
"Kami sudah berusaha berbagai cara, tapi sapu-sapu ini jumlahnya tak terhitung. Kalau kami bertahan terus jadi nelayan, yang ada keluarga kami kelaparan. Biaya hidup mahal, tapi yang dipanen cuma ikan sapu-sapu yang tak harganya. Rugi terus menerus. Akhirnya kami putuskan cari jalan lain, ada yang jadi buruh tani, ada yang pergi ke kota cari kerjaan serabutan, atau jadi pedagang," keluh salah satu warga yang sudah lebih dari 20 tahun berkehidupan di atas rumah terapung.
 
Ia menambahkan, sangat berat rasanya meninggalkan danau dan rumah yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Namun, keadaan memaksa. "Daripada merugi setiap hari, lebih baik kami cari pekerjaan lain. Ikon rumah terapung ini perlahan hilang, penghuninya pun pergi satu per satu," tambahnya dengan nada sedih.
 
"Dulu sebelum Ikan Sapu-sapu Marajalela Rumah terapung disini banyak ada 50 an lebih namun setelah ikan sapu-sapu menguasai Danau satu persatu Nelayan meninggalkan Rumah terapung dan kini jumlah rumah hanya tinggal lima yunit saja, itu pun hanya dijadikan tempat alat Nelayan sudah tidak ada mi yang tinggal menetap"ungkapnya 

Fenomena ini menjadi catatan kelam bagi pariwisata dan ekonomi Kabupaten Soppeng. Danau Tempe dengan rumah terapungnya adalah daya tarik utama yang dikenal hingga ke mancanegara, namun kini terancam hilang begitu saja akibat serangan hama yang tidak tertangani.
 
Diperlukan penanganan serius, terpadu, dan solusi nyata untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu, memulihkan ekosistem Danau Tempe, dan menyelamatkan mata pencaharian ribuan nelayan.
 
Warga mengingatkan, jika dibiarkan lebih lama lagi, bukan hanya ikan asli yang akan punah, tetapi rumah terapung sebagai ikon budaya dan kebanggaan Marioriawa dan Soppeng akan hilang dari permukaan air Danau Tempe, meninggalkan kenangan dan kesedihan bagi generasi mendatang.
 
"Jangan sampai nanti anak cucu kami hanya bisa melihat gambar rumah terapung ini di buku sejarah saja. Selamatkan Danau Tempe kami, selamatkan mata pencaharian kami," pungkas harapan warga yang kini hidup dalam ketidakpastian di atas danau yang mulai kehilangan pesonanya.(ton)