SOPPENG, SAR.COM – Musim kemarau yang tak kunjung usai bagai mimpi buruk yang terus berlanjut bagi para petani di Kabupaten Soppeng. Tanaman padi yang seharusnya tumbuh subur justru mulai mengering, dan saat harapan satu-satunya jatuh pada mesin pompa air, datanglah masalah yang tak kalah menyengsarakan.
Tabung gas elpiji 3 kilogram yang menjadi andalan bahan bakar kini berubah menjadi barang langka sekaligus mahal. Harga yang wajarnya sekitar Rp18.000–Rp20.000, kini melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp45.000 di tingkat pengecer. Belum lagi, harus berjuang tanpa jaminan pasti bisa mendapatkannya.
Sementara itu, BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite yang menjadi alternatif pun tak kalah sulit didapat. Mengantre berjam-jam di SPBU belum tentu mendapat jatah, dan jika ada di tangan pengecer, harganya sudah jauh melampaui harga resmi ujar Sahidin Sabtu (8/8/2025)
"Kami sudah tak tahu lagi harus mengadu ke mana. Sumur bor pun airnya makin surut, mesin pompa harus menyala lebih lama, tapi bahan bakar untuk menjalankannya justru makin sulit dicari dan makin mahal. Di saat seperti ini, harapan kami perlahan pupus," ujar Sahidin salah satu petani dengan nada getir.
Biaya produksi membengkak berkali-kali lipat, sementara hasil panen sudah di ujung tanduk terancam gagal.
Di tengah panasnya matahari yang membakar tanah, para petani justru merasakan dinginnya keputusasaan.(ton)