Kemarau Berkepanjangan, Sumur Bor Mengering, Gas dan BBM Sulit Didapat: Derita Panjang Petani di tengah Kemarau.

 
SOPPENG, SAR.COM — Musim kemarau yang tak kunjung usai bagai mimpi buruk yang terus berlanjut bagi para petani di Kabupaten Soppeng. Tanaman padi yang seharusnya tumbuh subur menguning, justru mulai mengering di lahan. Saat satu per satu harapan pupus, sumbangan masalah datang bertubi-tubi, seolah tak ada hentinya menghempas kehidupan para penggembala tanah ini.
 
Sumur bor yang selama ini menjadi andalan utama untuk mengairi sawah saat irigasi tak lagi mengalir, kini mulai menunjukkan tanda-tanda keputusasaan. Air yang dulu melimpah untuk menggerakkan kehidupan pertanian, kini kian hari kian surut, bahkan ada yang sudah sama sekali mengering. Petani terpaksa merogoh kocek lebih dalam, namun hasil yang didapat semakin tak sebanding.
 
Belum selesai dengan persoalan air, datanglah masalah yang tak kalah menyengsarakan. Tabung gas elpiji 3 kilogram yang menjadi bahan bakar utama mesin pompa air, kini berubah menjadi barang langka sekaligus mahal. Harga yang wajarnya puluhan ribu rupiah, kini melambung tinggi hingga menyentuh angka yang tak masuk akal. Bahkan jika berani membayar mahal, belum tentu tabung bisa didapatkan. Harus berjuang berkeliling dari satu pengecer ke pengecer lain, berharap ada sisa yang tersedia.
 
Sementara itu, BBM subsidi seperti Solar dan Pertalite yang juga menjadi andalan bagi sebagian petani, nyaris mustahil didapatkan. Antrean panjang di SPBU dan pangkalan menjadi pemandangan sehari-hari, dan seringkali setelah berjam-jam menunggu, yang tersisa hanyalah kecewa karena stok sudah habis. Bahan bakar non-subsidi harganya melambung tinggi, jauh di luar kemampuan ekonomi petani kecil.
 
"Dulu kami berharap sumur bor bisa menyelamatkan tanaman kami. Sekarang sumur bor pun airnya habis. Kalau pun ada, gas dan BBM susah didapat, harganya pun selangit ujar Yunus salah satu petani dengan nada getir.

Yunus menambahkan bahwa, ada 1,5 Hektar yang dia kelola itu sudah menguning karena tidak ada air dengan kerugian mencapai 2 juta lebih, dengan usia tanaman 45 hari 

Kemarau panjang ini bagai pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Satu per satu tumpuan harapan petani runtuh  air makin sulit, bahan bakar makin langka dan mahal. Pupuslah sudah harapan mereka untuk panen melimpah tahun ini. Kini yang tersisa hanyalah doa dan kepasrahan, menunggu hujan turun membawa berkah sekaligus menyelamatkan mata pencaharian ribuan keluarga di Soppeng.

Sementara itu Pelaksana Harian (PLH) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Soppeng adalah Azis Dahlan yang dihubungi melalui telepon selulernya menyebutkan jumlah Tanaman rusak berat, 1600 Hektare sementara Puso 1800 Hektar itu tidak dihitung yang rusak ringan dan rusak sedang kata Azis dari balik telpon selulernya (ton)